KIMCIPEDES.COM, BANDUNG | Dalam rangka menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan dinamika dunia profesional, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), Universitas Bakrie melalui kolaborasi antara Program Studi Akuntansi, Program Studi Manajemen, dan Progam Inisiatif Mahasiswa (PRIMA) menyelenggarakan rangkaian Guest Lecture sepanjang tahun 2025.
Kolaborasi antara program studi, mahasiswa, dan praktisi profesional ini mencerminkan semangat SDG 17 (Partnership for the Goals), yang menekankan pentingnya kemitraan strategis dalam mendukung proses pembelajaran yang relevan dan berkelanjutan ", ujar Ahmad Bilfaqqih N.R selaku Ketua Panitia Penyelenggara.
Menurutnya, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan teori akademik dengan praktik nyata di industri, serta membekali mahasiswa dengan perspektif strategis mengenai perpajakan, akuntabilitas, dan manajemen korporasi.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa rangkaian Guest Lecture diawali dengan kegiatan bertajuk “Tax Insight 2025 : Accounting for Income Taxes in IFRS Era” yang diselenggarakan secara online pada 25 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan Amelia Sandra, S.E., Ak., M.Si., M.Ak., CA., CAP sebagai narasumber, yang memberikan pemahaman komprehensif mengenai akuntansi pajak penghasilan dalam era IFRS. 189 mahasiswa yang hadir dibekali pemahaman mengenai prinsip dasar pembukuan menurut UU KUP, konsep akuntansi komersial dan akuntansi pajak, pengakuan penghasilan dan biaya, hingga berbagai jurnal akuntansi terkait pemungutan, pemotongan, dan pembayaran pajak seperti PPh Pasal 21, 22, 23, dan 26.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya proses rekonsiliasi fiskal dan perhitungan kewajiban pajak penghasilan perusahaan. Pemahaman ini menjadi elemen kunci dalam menciptakan sistem perpajakan yang transparan dan akuntabel, yang merupakan fondasi dari institusi yang kuat dan berintegritas sebagaimana ditekankan dalam SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions).
Melalui Guest Lecture “Tax Insight 2025 : Accounting for Income Taxes in IFRS Era,” mahasiswa diharapkan mampu memahami peran akuntansi perpajakan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang sehat, sejalan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), sehingga mampu mempersiapkan diri sebagai calon akuntansi profesional di masa depan.
Selanjutnya, pada 11 November 2025, Universitas Bakrie kembali menyelenggarakan Guest Lecture “Accountability Navigator : Charting Strategis Value beyond Financial Statement” secara online. Acara ini menghadirkan Mohammad Yusuf, ST., MBA., CSRS., CSRA, selaku Superintendent Project Monitoring and Control, External Affairs & Sustainable Development Division di PT Kaltim Prima Coal (KPC). Kegiatan ini memperluas wawasan mahasiswa mengenai akuntabilitas perusahaan yang tidak hanya terbatas pada kinerja finansial, tetapi juga bagaimana perusahaan mengukur, memetakan, dan mengungkapkan nilai sosial sebagai bagian dari akuntabilitas kepada para pemangku kepentingan.
Di hadapan 201 mahasiswa, narasumber memberikan gambaran mendalam mengenai bagaimana PT Kaltim Prima Coal (KPC) menerapkan praktik keberlanjutan melalui pendekatan integrated reporting, yaitu pelaporan yang menggabungkan kinerja finansial dengan kinerja sosial, lingkungan, dan tata kelola perusahaan. Narasumber juga memaparkan bagaimana PT Kaltim Prima Coal (KPC) mengembangkan berbagai program yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), seperti pemberdayaan UMKM (SDG 1: No Poverty), pengembangan agribisnis (SDG 2: Zero Hunger), penyediaan air bersih dan sanitasi (SDG 6: Affordable and Clean Energy), konservasi lingkungan (SDG 13: Climate Action), dan berbagai program keberlanjutan lainnya.
Lebih jauh, narasumber menjelaskan pentingnya social value mapping sebagai bagian dari tata kelola perusahaan. Melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI), perusahaan dapat mengukur berapa besar manfaat sosial yang dihasilkan dari setiap rupiah investasi, sehingga dampak program dapat dilaporkan secara objektif dalam laporan tahunan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat transparansi perusahaan dan menjadi bukti nyata kontribusi PT Kaltim Prima Coal (KPC) dalam pembangunan keberlanjutan.
Selanjutnya, pada 9 Desember 2025, Guest Lecture “Corporate Management in Action : More than Mining—The Managerial Framework for Corporate Excellence” diselenggarakan dengan menghadirkan Dr. M. Iffan Fanani, S.E., M.S.M selaku General Manager Human Resources di PT Kaltim Prima Coal (KPC). Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan kepada 131 mahasiswa bahwa The KPC Way merupakan pendekatan manajemen yang menempatkan visi (the why) sebagai fondasi utama organisasi. PT KPC tidak hanya dirancang sebagai perusahaan, tetapi juga sebagai “rumah” bagi para pekerjanya, yang dibangun melalui rasa kepemilikan, solidaritas, dan komitmen bersama.
Pendekatan tersebut dijalankan melalui dua aktor utama, yaitu pemimpin (leader) dan karyawan (people). Kepemimpinan di PT KPC menekankan keteladanan, kemampuan pengambilan keputusan yang strategis, serta pendekatan soft skills yang kuat, terutama dalam mengelola tenaga kerja yang beragam latar belakang dan usia.
Sementara itu, karyawan dipandang bukan sekadar sebagai tenaga kerja, melainkan sebagai indivisu yang perlu difasilitas untuk tumbuh, berkembang, dan sejahtera. Cara padang ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), melalui penciptaan lingkungan kerja yang layak, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan. Lebih lanjut, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai enabler yang mendukung keberhasilan manajemen PT KPC, mulai dari teknologi, struktur organisasi, hingga proses kerja yang sistematis.
Penggunaan sistem digital, standar operasional yang ketat, serta struktur organisasi yang jelas memungkinkan PT KPC mengelola operasional pertambangan dalam skala besar secara efektif dan akuntabel. Hal ini selaras dengan SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure), khususnya melalui pemanfaatkan inovasi teknologi dan penguatan sistem industri yang tangguh. Pendekatan ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai outcome, mencakup kinerja operasional dan finansial, kepatuhan terhadap regulasi, keberlanjutan lingkungan dan masyarakat, serta akuntabilitas dan data tata kelola perusahaan.
" Outcome ini merefleksikan prinsip SDG 12 (Responsible Consumption and Production), yang menekankan pentingnya proses bisnis yang bertanggung jawab dan memperhatikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan sosial ", pungkasnya.
** M. Edwandi

Posting Komentar